Bunga Sri Rejeki

| Kamis, 14 Maret 2013

SI CANTIK PEMBAWA HOKI

KLIK - Detail Tanaman ini memiliki daun yang istimewa. Karena mudah memeliharanya, tanaman ini disebut tanaman hias yang cantik dan tak rewel. Tak heran jika sebagian orang memercayainya sebagai tanaman pembawa keberuntungan.

Dulu, Aglaonema, atau sri rejeki, hanya dikenal dengan daunnya yang bertotol putih atau hijau. Tetapi sekarang tidak lagi. Beragam Aglaonema hibrida memiliki daun beraneka warna, semisal merah, pink, atau kuning. Tak heran, jika semakin hari harga Aglaonema semakin meroket saja.

Ukay, dari An-nisa Flora yang setahun ini memfokuskan diri pada tanaman pembawa rejeki ini mengatakan, Aglonema dihargai Rp 100 ribu sampai Rp 50 juta. Bahkan ada juga yang dijual berdasarkan banyaknya daun dalam satu tanaman. "Bagi orang awam harga segitu bisa membuat kaget. Beda dengan orang yang memang hobi tanaman," kata Ukay dengan mata berbinar.

KLIK - Detail Varietas Aglaonema bisa mencapai 100 jenis, dan bisa terus berkembang. Aglaonema ditemukan di Asia Tenggara (Thailand, Kamboja, Malaysia). Tak heran jika para kolektor banyak mencari Aglaonema sampai ke Thailand. Lalu, diperbanyakan di sini dengan cara kultur jaringan, anakan, stek batang, biji, pencangkokan, dan vegetatif.

Selain cantik sebagai penghias teras, Aglaonema juga pas diletakkan di atas meja sebagai pelengkap. Dan jika diletakkan di atas meja, maka medianya yang non pupuk kandang. Begitu juga yang dilakukan Ukay. Biasanya memakai arang sekam, cocopeat (serbuk sabut kelapa), pasir malang, kapur untuk menetralisir ph, dan pupuk Dekastar.

Karena Aglaonema keindahannya justru dari daunnya, jika tumbuh bunga malah dibuang. "Karena banyak menyerap hara. Apalagi bunganya enggak cantik dan tersembunyi. Lebih baik dibuang saja," jelas Ukay.

KLIK - DetailBisa Berubah
Di Indonesia, Greg Hambali dikenal sebagai seorang pembudidaya Aglaonema yang cukup sukses. Hasil budi daya pria asal Bogor terkenal sampai manca negara. Salah satu Aglaonema hasil budidayanya yang terkenal di dunia, diberi nama Pride of Sumatera. "Selain barangnya langka, harganya pun "selangit"," lanjut Ukay.

Nama yang diberikan terhadap Aglaonema pun bervariasi. Greg lebih banyak memberi nama wanita pada Aglaonemanya seperti Widuri, Juliet, Srikandi, Diana, atau Shinta. Sementara Ukay memilih menggunakan nama-nama asing seperti Princess Noble, Black Prince, Pink Panther, Snow White, atau Chow Chow. "Kalau saya memberi nama tergantung dari bentuk dan warna tanaman tersebut. Pernah saya memberikan nama Golden Lipstik yang di pinggirnya berwarna merah. Eh, ternyata begitu ditanam di Semarang yang hawanya panas, warnanya berubah jadi merah semua," papar Ukay sembari tergelak. Pengalaman itu membuat Ukay tak buru-buru memberi nama.

Jika ingin mengoleksi Aglaonema, tak sulit, kok, memeliharanya. Yang penting, jangan disimpan di tempat yang langsung terkena sinar matahari. Penyiraman bisa tiap hari, atau dua hari sekali, tergantung materi media tanaman yang dipakai. "Kadang 2 atau 3 hari tidak disiram juga tidak apa-apa, asal ditanam di media yang bisa menyimpan air. Itu sebabnya sangat penting menentukan media tanam yang pas," papar Ukay.

0 komentar:

Poskan Komentar

Next Prev
▲Top▲